Tuesday, 21 June 2016

Sejarah Asal-muasal nama Desa Kolpajung

Hasil Observasi di Desa Kolpajung Kabupaten Pamekasan
Ujian Akhir Semester Sastra Madura
Sejarah Asal-muasal nama Desa Kolpajung
Perkenalkan namaku Kuswanto Ferdian, kalian bisa memanggilku Wawan. Tetapi kawan-kawanku di Desa memanggilku Phebeng. Entahlah apa maksud dari panggilan itu. Tetapi aku menerima saja dengan panggilan itu. Aku berasal dari Pulau Garam Madura. Desaku bernama ”Kolpajung”. Tepatnya di Kabupaten Pamekasan. Baguskan nama Desaku. Desa yang populer dengan julukan “Kampung Hijau”. Mendapat julukan “Kampung Hijau”, karena di Desaku sering menjuarai perlombaan “ADIPURA” yang sering di adakan satu tahun sekali di Kabupaten Pamekasan. Selain banyak pepohonan yang rindang serta daunnya yang hijau, di sepanjang jalan Desaku banyak bangunan yang di cat dengan warna hijau pula. Baik bangunan Sekolah, toko- toko, maupun bangunan rumah warga. Alasan itulah yang menjadikan Desaku mandapat julukan “Kampung Hijau”. Di Desaku Kolpajung memiliki banyak sejarah. Waktu aku dan kawan-kawanku berkunjung ke Desaku yang kecil ini, aku dan kawan-kawanku banyak sekali mendapatkan ilmu di Desa ini. Mulai dari sejarah Desa Kolpajung ini, makanan khasnya, tardisi serta wisatanya juga. Waktu pertama kali sampai di Desaku, aku dan kawan-kawanku langsung berkunjung ke sebuah pemakaman R.Ronggosukowati yaitu Raja pertama sekaligus Bupati yang pertama di Pamekasan. Pemakamannya terletak di Desa Kolpajung ini kawan. Pada saat aku dan kawan-kawanku ingin masuk ke pintu gerbang pemakaman R.Ronggosukowati, kami bertemu dengan seorang kakek yang sudah lanjut usia. Kawanku yang bernama khurin ketakutan saat pertama kali melihat kakek yang sudah lanjut usia ini. Karena penampilan kakek ini tidak seperti penampilan orang-orang biasanya. Seorang kakek ini langsung menghampiri kami dan bertanya, “ada perlu apa kalian kesini?”, aku langsung menjawabnya,” mohon maaf bapak sebelumnya, keperluan kami kesini ingin mengetahui sejarah yang ada di Desa ini pak,”. Akupun balik bertanya pada kakek ini, “kakek jurukunci di pemakaman ini?”, kakek itu menjawabnya dengan suara lirih, “iya saya juru kunci di pemakaman ini. Kebetulan sekali kami bisa bertemu dengan jurukunci pemakaman ini. Kami semua langsung berkenalan satu persatu. Berkumis putih, sedikit pendek, berambut putih, memakai ikat kepala hijau adalah ciri-ciri dari jurukunci pemakaman ini. Setelah aku dan kawan-kawanku selesai berkenalan dan memberitahu tujuan kami kesini. Kami langsung bertanya tentang asal muasal nama Desa Kolpajung dan tentang sejarah R.ronggosukowati. Bapak Mawi B.A, nama jurukunci dipemakaman ini. Beliau adalah sesepuh dari Desa Kolpajung ini dan sekaligus orang yang merawat pemakaman R.ronggosukowati lebih tepatnya dikenal dengan sebutan jurukunci. Waktu itu Kami langsung berdiskusi dengan bapak Mawi. “Kalau boleh tau pak, bagaimana sejarah asal-muasal dari nama Desa Kolpajung ini pak?”. Menurut bapak Mawi, “sejarah di Desa ini cukup unik dan bisa dibilang sebagai mitos, tetapi ini nyata dan benar-benar terjadi, boleh percaya dan boleh tidak percaya”. Setelah kami melakukan beberapa diskusi dengan bapak Mawi. Bapak mawi langsung menceritakan asal-muasal nama Desa Kolpajung ini. Bapak Mawi berkata, “Konon waktu zaman penjajahan Belanda, ada seorang tamu dari Negara Belanda yang berkunjung ke Pamekasan. Tamu dari Belanda tersebut ingin berkeliling di Pamekasan dengan jalan kaki. Pada saat tamu dari Belanda tersebut berjalan kaki ke sebuah Desa kecil yang dikelilingi pemakaman, tiba-tiba turun hujan yang sangat deras. Pada saat itu pula ada payung terbang secara ajaib entah dari mana asalnya payung itu, payung tersebut menutupi para tamu dari Belanda. Payung terbang mengikuti para tamu yang sedang berjalan kaki, sehingga para tamu tidak kehujanan. Sungguh sangat ajaib payung itu. Konon payung itu berwarna putih dan cukup lebar. Terbang diatas seiring berjalan dengan para tamu. Para tamupun terkejut melihat payung-payung yang berterbangan itu dan bertanya-tanya dari mana asal payung itu. Ternyata payung itu adalah utusan dari R.ronggosukowati. Karna beliau pada saat jadi Raja sekaligus Bupati pertama di Pamekasan, beliau adalah orang yang sangat sakti. Orang-orang terdahulu sebelum Bapak, ada yang mengatakan bahwa R.Ronggosukowati bisa terbang seperti burung. Beliau memang orang yang sangat sakti pada saat itu. Akhirnya para tamu dari Belanda itu bertanya pada salah satu Ajudan yang menemaninya berjalan kaki. “Benda apa itu yang terbang?”. Ajudan tersebut menjawabnya, “benda itu adalah payung”. Tetapi oleh warga setempat yang menyaksikan pada saat itu pula, juga berkata, ”Ajiyeh pajung se bisah ngabbher”, warga setempat berkata dengan Bahasa Madura. Dalam bahasa Indonesia artinya, “itu payung yang bias terbang”. Dari kejadian itulah warga setempat waktu itu meyebutnya dengan Desa “Kolpajung”. Nama Desa Kolpajung itu di angkat dari Bahasa Madura. “Kol” di Madura dikenal dengan angkutan umum atau ojek. Sedangkan “Pajung” dalam Bahasa Indonesia adalah payung, jadi Kolpajung adalah ojek payung/angkutan Payung. Seperti itu asal muasal dari nama Desa ini”. Seperti itulah ungkapan cerita dari Bapak Mawi. Kami semua menyimaknya dengan baik. Pada saat itu juga kawanku yang bernama Khurin masih bertanya dan penasaran tentang nama Desa Kolpajung ini. Kata Khurin, ”apakah ada simbol atau bukti peninggalan sejarah tentang nama Desa Kolpajung ini Bapak?”. Bapak Mawi langsung menjawabnya, “Waktu kalian tadi memasuki pemakaman ini apa kalian semua tidak melihat 2 bangunan kembar yang berbentuk payung di depan gerbang pemakaman ini?”. Bapak Mawi balik bertanya pada kami, dan kami hanya tersenyum saja dan menjawab tidak. Karna pada saat kami memasuki gerbang pemakaman ini kami langsung masuk saja tanpa melihat ke kanan dan kekiri. Waktu itu juga Bapak Mawi beranjak berdiri dan langsung mengajak kami untuk melihat 2 bangunan kembar yang berbentuk seperti payung itu. Sesudah sampai didepan gerbang, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Bapak Mawi, 2 bangunan kembar itu mirip dan persis berbentuk sebuah payung yang tertutup. 2 bangunan tersebut sudah cukup kumuh kawan, mungkin karna sudah lama sekali bangunan ini di bangun, sehingga bangunan 2 payung kembar ini terlihat kumuh seperti tidak terawat. Tetapi bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan tidak ada yang retak. “Ini adalah bukti sejarah yang ditanyakan oleh kalian tentang asal muasal nama Desa Kolpajung ini”, ucap Bapak Mawi”. “Iya pak terima kasih atas semua informasi serta ilmu yang Bapak Mawi berikan pada kami semua”, ucapku sendiri pada Bapak Mawi, dan pada saat itu pula kami berpamitan untuk pulang. Kami semua sangat senang karna banyak mendapatkan ilmu di Desa Kolpajung ini kawan, semoga cerita diatas dapat menambah ilmu serta wawasan kalian semua. Terimakasih.

Analisis Puisi “Rayu Santi-Santi” Karya WS Rendra Rayu Santi-Santi



Analisis Puisi “Rayu Santi-Santi” Karya WS Rendra
Rayu Santi-Santi
karya WS Rendra
Ratap tangis menerpa pintu kalbuku
Bau anyir darah mengagu tidur malamku
Oh tikar tafakur
Oh bau sungai Tohor yang kotor
Bagaimana aku bisa membaca keadaan ini?
Di atas atap kesepian nalar pikiran
Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam
Aku menyerukan namamu,
Wahai! Para leluhur nusantara!
Oh Sanjaya,
Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman,
Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah,
air
Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat
Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?
Oh Katjau Lalido,
Bintang cemerlang tanau ugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yudis-prodensi, dan pemerincian perkara
Yang dijaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan
Oh lihatkan wajah-wajah berdarah
Dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki-tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jempalitan di atas meja hijau mereka
Oh Airlangga,
Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun
Kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan,
Agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat
Sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhineka Tunggal Ika!
Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik
Hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum, dan melambaikan tangan
Sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
Dengan puisi ini aku bersaksi:
Bahwa hati nurani ini mesti dibakar
Tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi
Meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah,
Fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa
Candi cheto 31 Desember 1999

A. Unsur Intrinsik
 
Struktur Fisik Puisi
  • Diksi
Diksi merupakan makna kiasan yang harus dipahami secara seksama dan menyeluruh, seperti: rayu merupakan kiasan dari suara hati penyair yaitu, pilu hati dan belas kasihan. Penyair sedang sakit hati dan merasa kasihan. Berarti rayu santi-santi adalah suara dari penyair yang sedang sakit hati:
Pada bait 1:
1)      “Ratap tangis menerpa pintu kalbuku” adalah gambaran hati dari seorang penyair yang sedang menangis di dalam hati sambil berucap di dalam batin.
2)      “Bau anyir darah mengagu tidur malamku” yang di maksud adalah mencium bau yang tidak sedap berbau amis yang menggangu tidur malamnya.
Pada bait 2
1)      “ Oh tikar tafakur”, gambaran dari seorang pernyair yang sedang berseru dan merenung di atas tikar memikirkan peristiwa yang pasti.
2)      “Oh bau sungai tohor yang kotor” , maksudnya adalah keadaan yang dirasakan oleh seorang penyair di ibaratkan dengan sungai tohor yang kotor.
Pada bait 3
1)      “Di atas atap kesepian nalar pikiran”, maksudnya yaitu di dalam ruangan menyendiri memikirkan keadaan yang dirasakan.
2)      “Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam”, maksudnya pada malam hari memikirkan kegilisahan yang dirasakan.
3)      “Aku menyerukan namamu, Wahai! Para leluhur Nusantara!”, Maksudnya penyair  mengeluh dan berfikir sambil memanggil nenek moyang nusantara atau pemimpin
Pada bait 4
1)      Oh Sanjaya, Leluhur dari kebudayaan tanah
Oh Purnawarman, Leluhur dari kebudayaan air
Kedua wangsa mu telah mampu mempersekutukan budaya tanah dan budaya air,
tanah, air
Oh Resi Kuturan,
Oh Resi Nerarte,
Empu-empu tampan yang penuh kedamaian
Telah kamu ajarkan tatanan hidup yang aneka dan sejahtera
Yang dijaga oleh dewan hukum adat
Bagaimana aku bisa mengerti bangsa phising dari bangsaku ini?
Oh Kajau Lalido,
Bintang cemerlang tanau Bugi
Negarawan yang pintar dan bijaksana
Telah kamu ajarkan aturan permainan di dalam benturan-benturan keinginan yang berbagai ragam dalam kehidupan
Ade, Wicara, Rabang, dan Wali
Ialah adat, peradilan, Yurisprudensi, dan pemerincian perkara
Yang di jaman itu, di Eropa, belum ada
Kode Napoleon 2 abad lagi baru dilahirkan
Maksud bait dia atas adalah perumpaan yang digambarkan oleh penyair dengan menggunakan kiasan seperti di atas yang memiliki makna sindiran tehadap penguasa. Penyair sudah mulai merasakan kegelisahan yang terjadi di dunia.
Pada bait 5
a.       Oh lihatlah wajah-wajah berdarah dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jumpalitan di atas meja hijau mereka
Maksud bait di atas penyair sudah merasakan dan melihat secara langsung kejadian seperti pemerkosaaan , kejahatan tanpa di adili, korupsi, dan hakim yang tidak bisa menegakkan keadilan. Semua di kuasai oleh kekuasaan
Pada bait 6
a.       Oh Airlangga, Raja tampan bagai Arjuna,
Dalam usia 17 tahun kau dorong rakyat di desa-desa adat untuk menyempurnakan keadilan hukum adat mereka yang berbeda-beda
Dan lalu kau perintahkan, agar setiap adat mempunyai 40 prajurit adat
Yang menjaga berlakunya hukum adat, sehingga hukum adat menjadi adil, mandiri, dan terkawal
Baru kemudian sesudah itu,
Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan
Yang mempersatukan cara-cara kerjasama antar hukum adat yang berbeda-beda
Sehingga penyair Tantular berseru, Bhinneka Tunggal Ika
Maksud dari bait di atas adalah perumpaan yang digambarkan oleh seorang penyair sebagi sindiran kepada seorang pemimpin yang muda agar bisa menjalankan hokum dengan benar dan adil. Dengan berlandaskan ilmu agama.Penyair juga menggambarkan mpu tanular sebagai pencetus bhineka tunggal ika yang harus di jadikan landasan dalam hokum.
Pada bait 7
1)      Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum dan melambaikan tangan, sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
Maksud dari bait diatas penyair merasakan sakit hati din zaman ini. Seorang pemimpin hanya berlatih jalan di pasar sambil tersenyum dan melambaikan tangan supaya dipandang sama derajatnya antara pemimpin dan rakyat. Tetapi dengan melakukan hal seperti itu belum tentu pemimpin yang demokrasi.
Pada bait 8
a.       Dengan puisi ini aku bersaksi;
Bahwa hati nurani ini, mesti dibakar tidak bisa menjadi abu
Hati nurani senantiasa bisa bersemi, meski sudah ditebang putus di batang
Begitulah, fitrah manusia ciptaan Tuhan, yang maha Esa
Maksud dari bait di atas penyair membuat puisi ini adalah sebagai saksi bahwa yang bersalah harus di bersihkan supaya menjadi bersih hatinya. Karena kalau tidak di bersihkan, rasa bersalah itu akan terus tumbuh dan memuat kesalahan lagi. Seperti seorang bayi, orang yang bersalah harus dibersihkan dari dosa-dosanya sehingga bisa menjadi suci lagi seperti awal diciptakannya manusia oleh allah. Awal mula di mulai dari kesucian.
  • Citraan
Citraan dalam karya sastra berperan untuk menimbulkan pembayangan imajinatif bagi pembaca melalui ungkapan tidak langsung.
1.Citraan visual (penglihatan) terlihat pada bait kelima
Oh lihatlah wajah-wajah berdarah dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jumpalitan di atas meja hijau mereka
Pada bait ketujuh
Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum dan melambaikan tangan, sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
2. Citraan indera (pencium) terlihat pada bait pertama baris kedua :Bau anyir darah mengagu tidur malamku yang di maksud adalah mencium bau yang tidak sedap berbau amis yang menggangu tidur malamnya
Pada bait kedua baris kedua oh bau sungai tohor yang kotor , maksudnya adalah keadaan yang dirasakan oleh seorang penyair di ibaratkan dengan sungai tohor yang kotor
3. Citraan indera (pendengaran) terlihat pada bait keenam baris ketujuh Empu Baradah membantumu menciptakan hukum kerajaan.

  • Kata-kata konkret
Pada puisi ini ditemukan diksi yang berupa kata-kata konkret yang dapat membangkitkan citraan seperti penglihatan, penciuman, pendengaran.Kata-kata konkret tersebut sangat jelas menunjukan sikap tindakan baik dari penyair maupun dari pembaca.Kata-kata konkret tersebut bertujuan untuk menggambarkan unsur-unsur puisi secara tepat agar pembaca dapat merasakan keadaan yang dirasakan penyair.
  • Gaya Bahasa (Majas)
Dalam puisi “Rayu Santi-Santi” gaya bahasa (majas) yang muncul yaitu:
  1. Pada bait kedua baris kedua, yaitu “.oh bau sungai tohor yang kotor, merupakan majas metafora yang bersifat membandingkan sesuatu secara langsung. Bau yaitu aroma yang nikmat dan tidak nikmat sedangkan sungai tohor yaitu sungai yang panjang sebagai penyebrangan kapal nelayan untuk menuju kelaut. Jaid penayair membandingkan bau dengan sungai tohor sebagai gaya bahasa.
  2. Majas repetisi pada bait satu sampai bait lima dan terketak di baris pertama, yaitu terjadi pengulangan kata, “oh sanjaya, oh purnawarman, Oh Resi Kuturan, Oh Resi Nerarte, Oh Kajau Lalido, oh airlangga ”, menggambarkan bahwa si mengeluhkan kegelisahannya dengan menggunakan kata Oh.
  3. Pada baris ketuga baris kedua yaitu, “Yang digalaukan oleh lampu-lampu kota yang bertengkar dengan malam maksudnya pada malam hari” merupakan bahasa kiasan personifikasi yang menggambarkan benda mati dapat digambarkan seolah-olah hidup.
  4. Dalam bait ketiga baris pertama, “di atas atap kesepian nalar pikiran” adalah personifikasi karena di dalam ruangan dia menyendiri dan sambil berfikir.
  5. Majas Anatonomasia pada bait keenam baris pertama yaitu, “Oh Airlangga, Raja tampan bagai Arjuna,” yang menggunakan ciri fisik seseorang sebagai penggantinya.


·         Rima dan ritma
Puisi “rayu santi-santi” secara keseluruhan didominasi dengan adanya vokal /a/u/.Asonansi vokal /a/u/ terdapat pada baris puisi yaitu pada bait pertama baris 1dan 2. Pada bait kelima baris 1 dan 2, misalnya:
Asonansi vokal (u):
Ratap tangis menerpa pintu kalbuku
Bau anyir darah mengagu tidur malamku
Asonansi vocal (a):
Oh lihatlah wajah-wajah berdarah dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Dari asonansi vokal diatas dapat disimpulkan bahwa puisi ini mempunyai irama yang tidak tepat dan tidak beraturan yakni irama vokal  u u a a.
Struktur Batin Puisi
  • Tema
Tema dalam puisi  “Rayu Santi-santi” adalah “Keadilan”. Dalam puisi Rayu Santi-Santi menceritakan kerinduan tegaknya hukum keadilan.Banyak kejahatan-kejahatan yang tidak di adili dengan tegas.Kejahatan seolah-olah seperti berak yang habis keluar lalu disiram dan hilang begitu saja.Pada kala itu yang dirasakan seorang penyair hukum tidak bisa berdiri dengan tegak.Banyak kejahatan yang terjadi pada saat itu seperti, pemerkosaan, korupsi, hakim tidak bisa menegakkan hukum dengan benar dan yang sangat miris hakimnya juga ikutan korupsi pada saat itu.Padahal aturan hukum sudah di buat sesuai dengan keputusan bersama tetapi hukum tidak bisa berdiri tegak pada saat itu.Semua bisa di beli dan di injak-injak oleh kekuasaan. Para pemimpin politik hanya bisa melambaikan tangan bersorak sorak sambil tersenyum berjalan di pasar agar di pandang oleh msayarakat memiliki kedudukan yang sama antara pemimpin dan rakyat. Tapi kenyataannya itu hanyalah taktik politik untuk mendaptakan kekuasaan.Tidak bisa menegakkan keadilan dengan benar semua hanyalah sandiwara.Para hakimnya juga ikut jumpalitan di meja hijau berdebat masalah hukum yang tak kunjung selesai.

·         Perasaan
Perasaan yang ditekankan pada puisi ini adalah rasa kecewa dan sakit hati karena hukum tidak bisa di tegakkan dengan benar.Para pemimpin sudah di butakan oleh kekuasaan.Kejahatan tidak bisa di adili seolah-olah kejahatan bisa tertawa dengan lega.
·         Nada
Nada yang ditunjukan dalam puisi “Rayu Santi-Santi” ini adalah kekecewaan dan sakit hati.Kekecewaan dan rasa sakit hati ini muncukl karena hukum tidak bisa berdiri tegak dengan benar, hukum hanya sebatas perjanjian tertulis saja tidak bisa di adili dengan benar.Kejahatan merajalela dan tidak di adili oleh para hakim.Bahakan hakimnya juga ikut berbuta kejahatan seperti korupsi.
Unsur nada kekecewaan
Tetapi lihatlah di jaman ini,
Para elit politik hanya terlatih untuk jalan-jalan di pasar
Tersenyum dan melambaikan tangan, sok egaliter!
Tetapi egalitarianisme tidak otomatis berarti demokrasi
Unsur nada sakit hati
Oh lihatlah wajah-wajah berdarah dari rahim yang diperkosa
Muncul dari puing-puing tatanan hidup yang porak-poranda
Kejahatan kasat mata tertawa tanpa pengadilan
Kekuasaan kekerasan kaki tangan penguasa berak dan berdahak di atas bendera kebangsaan
Dan para hakim yang tak mau dikontrol korupsinya,
Berakrobat jumpalitan di atas meja hijau mereka


  • Amanat
Dalam puisi ini amanat yang disampaikan oleh penyair adalah bahwa jika kita mempunyai kesalahan kepada orang  lain kita harus meminta maaf. Hati yang bersalah harus di bersihkan terlebih dahulu apabila punya salah karena jika tidak dibersihkan kesalahan itu akan terus terulang,
B. Unsur Ekstrinsik
Puisi “Rayu Santi-Santi” adalah puisi krya W.S rendra.Karya-karyanya iedntik dengan kritik sosial, seperti yang di tulis pada puisi yang berjudul Rayu Santi-Santi, yang menceritkan tentang kritik sosial yang dirasakan oleh penyair.Dalam puisin ini penyair mencoba mengungkapkan kegelisahan hatinya yang dia rasakan. Seperti puisi-puisi W.S Renrda yang lain, Pada puisi Rayu Sant-Santi ini  W.S rendra memilih bersembunyi memalui metafora dan kiasan-kiasan. Dalam puisi ini W.S Rendra menggambarkan pintu kalbuku “Aku” sebagai dirinya sendiri.Begitu indah dan penuh pergerakan untuk membangkitkan semangat para pemuda untuk menegakkan keadilan.W.S Rendra mengilustrasikan beberapa dewa dan tempat sebagai luapan kegelisahan hatinya yang dia rasakan.Kata kata yang di ilustrasikan penuh dengan teka-teki namun di dalam kata-kata itu banyak makna yang tersirat dan mengandung arti yang begitu mendalam bagi pembacanya.Menggunakan pengilustrasian kata-kata kiasan dan sindiran pada awal bait, namun setelah sampai isi, kata-kata yang di hadirkan adalah kata-kata secara spontanitas dan langsung menjurus langsung pda pokok permasalahan yang dirasakan oleh penyair.Seperti puisi W.S Rendra yang lainnya, ciri khas dari puisi W.S Rendra banyak mengkritik tentang sosial.Selalu menghadirkan semangat optimism untuk mengagkkan suatu hukum dan keadilan di dunia ini.Karena kita hidup berlandaskan pada agama dan hukum.W.S Rendra seakan selalu berpesan pada pembacanya untuk tidak diam apabila ada sesuatu yang janggal dan salah dalam menjalani kehidupan ini.Karena pada dasarnya yang salah harus di salahkan dan yang benar harus di benarkan.Seperti itu pesan yang selalu WS Rendra sampaikan dalam beberapa karyanya.
C. Makna Puisi “Rayu Santi-Santi”
puisi “Rayu Santi-Santi”, Karya W.S Rendra adalah puisi tentang kerinduan tegaknya hukum dan keadilan. Dari judul puisi “Rayu Santi-Santi itu adalah perumapaan dari seorang penyair.Rayu memiliki makna pilu hati dan belas kasihan.Penyair mencoba mengungkapkan kegelisahan hatinya dengan keadaan yang dia lihat dan yang dia rasakan pada saat itu.Banyak kejahatan-kejahatan yang tidak di adili dengan tegas.Kejahatan seolah-olah seperti berak yang habis keluar lalu disiram dan hilang begitu saja.Pada kala itu yang dirasakan seorang penyair hukum tidak bisa berdiri dengan tegak.Banyak kejahatan yang terjadi pada saat itu seperti, pemerkosaan, korupsi, hakim tidak bisa menegakkan hukum dengan benar dan yang sangat miris hakimnya juga ikutan korupsi pada saat itu.Padahal aturan hukum sudah di buat sesuai dengan keputusan bersama tetapi hukum tidak bisa berdiri tegak pada saat itu.Semua bisa di beli dan di injak-injak oleh kekuasaan. Para pepmimpin politik hanya bisa melambaikan tangan bersorak sorak sambil tersenyum berjalan di pasar agar di pandang oleh msayarakat memiliki kedudukan yang sama antara pemimpin dan rakyat. Tapi kenyataannya itu hanyalah taktik politik untuk mendaptakan kekuasaan.Tidak bisa menegakkan keadilan dengan benar semua hanyalah sandiwara.Para hakimnya juga ikut jumpalitan di meja hijau berdebat masalah hukum yang tak kunjung selesai. Bhineka tunggal ika sudah tidak lagi di fikirkan sebagai semboyan dan moto dari bangsa Indonesia, yang mempunyai makna  persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Semua di hancurkan oleh kekuasaan seolah-olah kekuasaan yang menjadi  peradaban dunia. Seperti itu kegelisahan yang dirasakan oleh W.S Rendra.Sehingga dari kegelisahan itu tercipta sebuah puisi “Rayu Santi-Santi”.Puisi ini ditulis di candi cheto pada tanggal 31 Desember 1999.

Sunday, 19 June 2016

Permainan Tradisional (“Es Llilin Cabbih” Kolpajung-Pamekasan-Madura)



Permainan Tradisional (“Es Llilin Cabbih” Kolpajung-Pamekasan-Madura)

Penulis : Kuswanto Ferdian

          Waktu aku masih kanak-kanak aku sering bermain dengan kawan-kawanku di kampung desaku. Desaku bernama ” KOLPAJUNG”, baguskan nama desaku. Permainan yang paling aku sukai waktu kanak-kanak, ada permainan yang disebut “ES LILIN CABBIH” permainan ini hampir sama dengan permainan “PETAK UMPET”, tetapi yang membedakan permainan “ES LILIN CABBIH” ini bermain sambil bernyanyi. Setiap pulang sekolah dasar, aku dan kawan-kawanku sering bermain permainan “Es Lilin Cabbih” ini, Karena selain permainan ini seru, permainan ini dimainkan sambil bernyanyi dan jumlah pemainnya tak terbatas. Aku sering bermain permainan ini dengan kawan-kawanku di desa. Biasanya sebelum kami bermain, kami berkumpul terlebih dahulu di halaman tetanggaku, alasan kami berkumpul di halaman tetangga karena halaman tetanggaku ini cukup luas, lumayan untuk tempat berkumpul dan bermain dengan kawan-kawanku. Oh ya, setelah semua kawan-kawanku berkumpul, biasanya kami saling bertanya satu sama lainnya, siapa saja yang ingin ikut bermain “Es Llilin Cabbih” ini. Semua sudah mengacungkan tangan dan akhirnya permainan akan segera di mulai. Penasaran ya seperti apa permainannya. Baik kita awali dengan “JUMPRIT” pasti kita semua tau kan apa itu jumprit. Jumprit ini tujuannya untuk memilih siapa yang bertugas menjaga duluan. Adilkan kalau gitu, ya pasti adil tanpa main curang, secara tidak sadar waktu kanak-kanak saja kita semua sudah di ajari tentang kejujuran yaitu melalui permainan tradisional kita, makanya kita harus menjaga dan melestarikan permainan tradisional kita ini kawan, jangan sampai punah karena kemajuan zaman dan tegnologi. Oh ya kawan jumprit ini di desaku ada lagunya, pasti ingin tahu kan? Seperti ini loh lagunya. “Jumprit Langkaleng Kercet Karoma Mangkok Tabbhuen Bhutol”. Nah seperti itu kawan lagunya, lucu kan?. Jumprit ini ada yang memimpin 1 anak, baik saya akan tunjukkan caranya kawan. Pertama, yang memimpin jumprit mengangkat tangan keatas 5 jari dan di buka lebar, terserah tangan kanan apa tangan kiri. Kedua, pemain yang ikut bermain, mengangkat jari telunjuk dan menempel ke tangan yang memipin jumprit termasuk pemimpin jumprit juga mengikuti tangannya menempel juga ke tanggannya sendiri. Ketiga, jumprit di mulai sambil bernyanyi, seperti tadi itu kawan lagunya. Keempat, setelah selesai bernyanyi, pemimpin jumprit menangkap 1 jari telunjuk dari pemain dan yang tertangkap jari telunjuknya, berarti itu yang bertugas menjaga duluan. Begitulah caranya jumprit di desaku kawan. Sebelum anak yang bertugas menjaga duluan di pohon, kita tentukan dahulu persyaratannya. Ribet ya kawan permainnya? Masih ada persyaratan dan perjanjiannya terlebiih dahulu, nah justru itu kawan ternyata sejak kanak-kanak kita semua sudah diajari tentang kejujuran, perjanjian, dan masih banyak lagi norma-norma yang baik secara tidak sengaja itu semua ada pada permainan tradisional kita dan telah kita terapkan sejak kecil, tetapi sekarang sudah hampir punah permainan tradisional kita, ini tugas kita semua kawan yang harus menjaga dan melestarikannya. Agar supaya permain tradisional kita ini tetap ada dan tidak punah. Baik kawan, kita lanjut pada persyaraant dan perjanjiannya ya. Perjanjian yang pertama, menentukan tempat pohon untuk yang betugas menjaga duluan sebagai simbol benteng, tetapi di desaku biasanya di sebut “PAL”. Perjanjian yang kedua, tidak boleh bersembunyi jauh dari area “PAL” tersebut. Perjanjian yang ketiga, pemain yang di temukan pertamakali, dia yang akan menggantikan bertugas menjaga. Nah ketika semua sudah sepakat dengan perjanjian tadi , akhirnya permainan bisa di mulai kawan. Yang bertugas menjaga pertama kali, harus menutup mata sambil bersender di pohon dengan membalikkan badan, kepala harus di tundukkan ke bawah dan tutup mata tidak boleh melihat pemain lainnya. Lalu permainan di mulai dan yang bertugas menjaga di pohon sambil bernyanyi sampai selesai, pemain yang lainnya segera berlari dan bersembunyi. Akhirnya yang bertugas menjaga memulai bernyanyi, ingin tahu bagamaiman lagunya kawan? Penasaran ya?. Baik akan saya beri tahu lagunya, seperti ini kawan, “ Es Lilin Cabbih Ayobih Bhittas Ngonyer Ayonyer Nyerra Otang Ayotang Tangghel Ennem Eyonem Nembhung Petek Ayotek Tekos Jhuling Ayoling Lingker Olar Ayolar Larberesoh Ayosoh Sosoh Rajeh Ayojeh Jehmarajeh”. Nah seperti itu kawan lagunya, lucu ya? He,,hee,,he,,he,, tetapi itu agak jorok kawan lagunya, kami sengaja bernyanyi seperti itu karena sebagai penghibur kami dan gelak tawa kami waktu bermain. Ketika yang bertugas menjaga selesai bernyanyi akhirnya dia mencari pemain yang bersembunyi. Biasanya hampir 15 menit mencari, kadang tidak di temukan juga  kawan, dari saking sulitnya persembunyian dari para pemain, ya seperti perang zaman dahulu kita menggunakan strategi juga untuk mencari para pemain yang sedang bersembunyi. Setelah ada yang ditemukan 1 pemain, biasanya pemain yang di temukan itu memberikan kode kepada pemain lainnya yang sedang bersembunyi. Didesaku kodenya unik kawan, ada 2 kode yang sering kami sebutkan, yaitu Tahu dan Tempe kawan. Biasanya kalau Tahu itu sebagai simbol, orang yang bertugas menjaga sedang mencari berkeliling artinya segera mereka keluar dari persembunyiannya untuk nge “PAL” di pohon. Dan untuk kode tempe biasanya, orang yang bertugas menjaga hanya menjaga bentengnya terus tidak berkeliling artinya pemain yang bersembunyi jangan keluar terlebih dahulu. Seru ya kawan permainan di desaku ini, ada kodenya juga. Semua pemain telah di temukan oleh orang yang menjaga dan yang menjaga di pohon bergantian seperti perjanjian tadi itu kawan. Biasanya kami bermain hampir satu jam kawan, dari saking asiknya bermain kami sering lupa dengan waktu. Sesudah bermain permainan “Es Lilin Cabbih” biasanya kami masih berkumpul lagi sambil bercerita-cerita, ya seperti itulah kawan permainan di desaku semoga bermanfaat ya. Dan ingat pesanku juga kawan jangan sampai permainan tradisional kita punah, tetap harus di lestarikan jangan sampai terpengaruh oleh permainan game online yang sekarang lagi booming seperti “COC” katanya. Ingat, permainan tradisional kita banyak mengajarkan norma-norma kebaikan dalam kehidupan dan harus di lestarikan jangan sampai punah.